Bagi Kabar, Pontianak: “Kalau kita biarkan hutan rusak, apa yang mau kita wariskan ke anak cucu?” ujar Sekretaris Desa Kubu Padi dengan nada tegas saat menutup sesi diskusi penyuluhan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Tanjungpura, akhir September lalu. Ucapan itu seakan meneguhkan bahwa konservasi lahan bukan hanya isu kampus atau pemerintah, melainkan juga suara nurani warga desa.

Di balai desa sederhana, puluhan mata warga menatap layar proyektor yang menampilkan gambar-gambar hutan, pohon multiguna, dan kebun campuran. Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya materi penyuluhan. Namun, bagi masyarakat Kubu Padi, inilah peta jalan harapan untuk masa depan desa.

PKM kali ini mengangkat tema “Konservasi Lahan dengan Tanaman Multiguna.” Pesannya jelas, bahwa menjaga hutan berarti menjaga kehidupan. Materi tentang KHDTK UNTAN, ancaman perubahan iklim, dan manfaat tanaman multiguna membuka wawasan masyarakat tentang pentingnya mengelola lahan secara bijak.

Seorang ibu rumah tangga, atau yang akrab dipanggil “emak-emak” di desa, mengungkapkan kesannya. “Kami baru tahu kalau menanam jengkol, petai, atau tengkawang bukan sekadar untuk jual hasil. Ternyata pohon-pohon itu juga bisa menjaga tanah supaya tidak cepat rusak. Jadi, selain makanannya ada, lingkungan juga aman,” katanya sambil tersenyum bangga.

Kalimat sederhana itu menyimpan makna besar, bahwa ilmu pengetahuan bisa diterjemahkan ke bahasa keseharian warga. PKM bukan menggurui, melainkan memantik kesadaran bahwa apa yang mereka lakukan sehari-hari (menanam, memanen, mengolah) punya kaitan erat dengan keberlanjutan bumi.

Sering kali masyarakat dihadapkan pada pilihan sulit, antara menjaga lingkungan atau meningkatkan penghasilan. Namun, penyuluhan kali ini menghadirkan pandangan baru. Dengan menanam tanaman multiguna (Multi Purpose Tree Species/MPTS) seperti durian, sengon, tengkawang, hingga kaliandra, warga tidak harus memilih salah satu.

Seorang pemuda desa yang aktif dalam kelompok tani bercerita. “Kami anak muda kadang bingung, kerja di sawit memang cepat ada uang, tapi lama-lama capek juga, tanah gambut juga kering. Kalau pakai pola kebun campuran, hasilnya memang tidak instan, tapi lebih aman buat masa depan. Ini yang harus kami pelajari,” katanya.

Pendapat itu menunjukkan adanya pergeseran perspektif generasi muda. Mereka mulai melihat bahwa ekonomi jangka pendek tidak boleh menutup mata terhadap keberlanjutan jangka panjang. Penyuluhan ini menjadi jembatan antara kepentingan ekonomi keluarga dengan keharusan menjaga ekologi.

Dalam diskusi kelompok, Sekdes menekankan bahwa desa tidak bisa jalan sendiri. “Kalau tidak ada pendampingan dari kampus dan dukungan pemerintah, sulit bagi kami untuk konsisten. Tapi kalau bersama-sama, desa bisa mandiri dan sejahtera,” sebutnya.

Pernyataan ini menegaskan pentingnya kolaborasi ABCDEFG: Akademisi, Bisnis, Community, District, Entrepreneur, Fintech, dan Government. Konsep yang diperkenalkan tim PKM Fakultas Kehutanan UNTAN bukan hanya teori, tetapi menjadi bahan obrolan hangat antarwarga. Bagaimana hasil kebun bisa dipasarkan bersama? Bagaimana kelompok pemuda bisa mengakses teknologi finansial sederhana? Pertanyaan-pertanyaan itu membuka ruang dialog baru yang sebelumnya jarang terdengar.

Dalam banyak tradisi desa, emak-emak adalah motor perubahan yang sunyi. Mereka tidak selalu hadir di ruang musyawarah resmi, tetapi mereka yang mengelola dapur, memutuskan menu makan, dan mengajarkan anak-anak tentang sayur-mayur, buah, atau ikan.

Seorang emak di Desa Kubu Padi menyampaikan, “Kalau ada kebun campuran, anak-anak bisa makan buah sendiri, tidak harus beli di pasar. Kami juga bisa bikin olahan, seperti keripik singkong atau dodol durian, yang juga bisa dijual di pasar.” Inilah bukti bahwa penyuluhan tidak berhenti pada teori. Ia menumbuhkan ide-ide kecil di dapur rumah tangga yang bisa berkembang menjadi gerakan ekonomi desa. Konservasi lahan ternyata bisa dimulai dari periuk nasi.

Pemuda desa kini dihadapkan pada realitas berat, berupa lapangan kerja terbatas, sementara godaan untuk merantau besar. Namun, PKM ini memberi inspirasi lain. “Kalau kita serius kembangkan kebun campuran atau sistem pertanian terpadu, anak muda tidak perlu lari ke kota. Kita bisa kerja di tanah sendiri,” ujar seorang ketua karang taruna. Suara ini penting, sebab keberlanjutan desa sangat bergantung pada kemauan pemuda untuk bertahan dan berinovasi di kampung halaman. Penyuluhan berhasil membuka mata mereka bahwa pertanian bukan pekerjaan ketinggalan zaman, tetapi justru garda depan dalam menghadapi perubahan iklim.

Di akhir acara, ada satu kalimat yang berulang kali muncul, yakni “anak cucu.” Emak-emak menyebut anak cucu saat bicara soal makanan sehat. Pemuda menyebut anak cucu saat bicara soal pekerjaan masa depan. Sekdes menyebut anak cucu saat bicara soal kelestarian hutan. Ini menunjukkan bahwa konservasi lahan telah masuk ke ruang paling personal, yaitu cinta keluarga. Bukan lagi hanya jargon lingkungan atau angka-angka karbon, melainkan rasa sayang agar generasi mendatang tetap bisa merasakan teduhnya hutan, segarnya udara, dan manisnya buah durian dari kebun sendiri.

Penyuluhan PKM di Desa Kubu Padi hanyalah permulaan. Tantangan ke depan jauh lebih besar, bagaimana agar ide-ide tidak berhenti di kertas, tetapi tumbuh di tanah. Bagaimana agar semangat gotong royong tidak padam, dan bagaimana agar pemerintah serta akademisi tetap hadir mendampingi. Keberlanjutan penyuluhan ini bisa ditempuh dengan tiga langkah sederhana, yaitu (1) Pembibitan bersama desa perlu membuat kebun bibit tanaman multiguna agar warga mudah mendapatkan pohon; (2) Kelompok belajar tani, mulai dari pemuda dan emak-emak bisa rutin bertemu, berbagi pengalaman, dan mencatat hasil; (3) Pemasaran kolektif dari produk hasil kebun campuran dijual bersama dengan merek desa, sehingga punya nilai tambah. Jika langkah-langkah ini dijalankan, maka penyuluhan PKM tidak hanya meninggalkan ingatan, tetapi juga warisan nyata berupa pohon, kebun, dan ekonomi desa yang lebih kokoh.

Kegiatan PKM di Desa Kubu Padi telah memperlihatkan bahwa pengetahuan dan kearifan lokal bisa bertemu di satu meja. Warga belajar tentang perubahan iklim, namun sekaligus diajak mengingat bahwa mereka adalah bagian dari solusi. Suara sekdes yang tegas, senyum emak-emak yang penuh semangat, dan tekad pemuda yang berani menatap masa depan, semuanya menyatu menjadi harmoni, bahwa konservasi lahan bukan pilihan, melainkan kewajiban moral. Bila semua pihak konsisten, maka benar adanya slogan yang digaungkan di akhir acara, “Hutan lestari, desa mandiri, masyarakat sejahtera. Indonesia jaya.”

Oleh: Gusti Hardiansyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *