Foto Prof Gusti saat didampingi ICMI Provinsi Kalbar dan ICMI Kota Singkawang saat bertemu dengan Sekda Singkawang.

Oleh: Gusti Hardiansyah, Guru Besar UNTAN & Ketua ICMI Kalbar

Bagi Kabar, Singkawang: Saya menyeruput kopi Liberika khas Kalimantan Barat tanpa gula. Pahitnya jujur, aromanya tebal, menyisakan rasa panjang di ujung lidah. Kopi ini tumbuh dari tanah gambut dan hutan rawa, dari lanskap yang mengajarkan kesabaran. Seperti Liberika, hidup di Singkawang juga menuntut ketenangan tidak tergesa, tidak meledak, tetapi setia merawat rasa.

Di kota ini, orang menyebutnya Bumi Tidayu: Tiang Hoa, Dayak, dan Melayu. Ada pula yang menyebutnya Kota Seribu Kelenteng. Dunia mengenalnya sebagai “the most tolerant city.” Nama boleh beragam, tetapi denyutnya satu: hidup berdampingan dengan saling menghormati. Toleransi di Singkawang bukanlah baliho; ia adalah kebiasaan disapa di pasar, dijaga di kampung, dirawat dalam percakapan sehari-hari.
Di tengah suasana itulah, hikmah #SAKIT–#SEHAT–#ISLAM terasa menemukan rumahnya (baca: *petuah dr Sumardi, 81 tahun* yg juga Ketua Dewan Penasehat ICMI Orda Singkawang). SAKIT: Sombong, Angkuh, Kikir, Iri, Takabur adalah penyakit yang tak bersuara, tetapi bising dampaknya. Ia merusak perlahan: relasi menjadi kaku, empati menipis, dan kebijaksanaan kalah oleh ego. Di kota majemuk, penyakit ini paling berbahaya karena satu hati yang sombong dapat mengoyak banyak ikatan.

Obatnya SEHAT: Selalu Hati Tenang*. Tenang bukan berarti diam. Tenang berarti jernih. Seperti kopi Liberika yang diseduh pelan, ketenangan memberi waktu bagi rasa untuk matang. Dari hati yang tenang lahir sikap adil, kemampuan mendengar, dan keberanian merangkul perbedaan. Di Singkawang, ketenangan itu adalah modal sosial ia menjaga kota tetap teduh di tengah dunia yang mudah panas.

Jalan menuju ketenangan itu dirawat oleh ISLAM: Syahadat, Sholat, Puasa, Zakat, Haji. Lima pilar yang, bila dihayati, adalah terapi jiwa. Syahadat meluruskan niat. Sholat melatih disiplin dan kerendahan hati. Puasa membersihkan kerak keserakahan. Zakat menumbuhkan empati sosial. Haji mengajarkan kesetaraan bahwa di hadapan Tuhan, semua manusia setara. Islam, dalam makna ini, bukan sekadar identitas; ia adalah etika hidup yang menyehatkan.

Di Singkawang, etika itu bertemu dengan toleransi. Beriman tanpa merasa paling benar. Berbeda tanpa saling meniadakan. Kota ini mengajarkan bahwa iman yang matang tidak menuntut panggung, melainkan menumbuhkan adab. Seperti kopi Liberika yang tak perlu gula untuk nikmat, toleransi tak perlu teriak untuk terasa.

Menyeruput kopi, saya teringat *pesan ekologis* yang sederhana namun tegas: jangan merusak bumi setelah diperbaiki. Alam Singkawang bukit, pantai, hutan kota adalah titipan. Wisata alam yang tumbuh di sini harus berwatak ishlah: memperbaiki, bukan menghabiskan; menumbuhkan ekonomi, tanpa menggerus harmoni. Ketika alam dijaga, hati ikut tenang. Ketika hati tenang, perbedaan menjadi rahmat.

Di kota yang dimuliakan karena toleransinya, peradaban dirawat dari hal-hal kecil: sapaan, kejujuran, berbagi. Dari secangkir Liberika tanpa gula, kita belajar satu hal: pahit yang jujur lebih menyehatkan daripada manis yang menipu. Begitu pula hidup bersama lebih baik jujur dalam perbedaan, daripada manis dalam kepura-puraan.

Singkawang telah memberi teladan. Kini tugas kita menjaga rasanya tetap utuh seperti Liberika yang diseduh perlahan: tenang, jernih, dan berjejak pada adab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *