Oleh: Gusti Hardiansyah
Guru Besar Universitas Tanjungpura
Ketua ICMI Orwil Kalimantan Barat
Bagi Kabar, Singkawang: Pelantikan ORSAT ICMI se-Kota Singkawang dan Rapat Kerja Daerah ICMI Orda Singkawang Tahun 2026 bukanlah sekadar peristiwa organisasi. Ia adalah penanda arah. Bahwa kerja cendekiawan tidak boleh berhenti di ruang seminar dan podium kehormatan, tetapi harus turun, membumi, dan berjejak di tapak kehidupan masyarakat.
Pagi itu, aula yang tertata rapi dengan ornamen religius dan simbol kebangsaan menghadirkan suasana khidmat. Barisan pengurus *ORSAT* yang dilantik berdiri sejajar, sederhana, dan penuh kesadaran. Tidak ada jarak yang mencolok antara yang memimpin dan yang dipimpin. Pesan visualnya kuat: ICMI bekerja bersama rakyat, bukan di atas rakyat.
Dalam sambutan Ketua ICMI Orwil Kalimantan Barat, ditegaskan bahwa *ICMI tidak boleh menjadi organisasi normatif yang sibuk dengan seremonial.* ICMI harus hadir sebagai mitra strategis pemerintah daerah, berbasis ilmu pengetahuan, pemikiran solutif, dan etika publik. Di sinilah ruh besar ICMI diuji: ulul ilmi yang memperkuat kebijakan, ulul albab yang melahirkan inovasi, dan ulul nuha yang menjaga keadaban sosial.
Singkawang adalah ruang yang istimewa. Kota ini dikenal luas sebagai kota toleransi tempat keberagaman hidup berdampingan bukan sebagai slogan, tetapi sebagai praktik keseharian. Karena itu, kehadiran ICMI di Singkawang memikul *amanah ganda:* mendorong pembangunan sekaligus menjaga harmoni. Penguatan ORSAT hingga tingkat kecamatan menjadi langkah strategis agar nilai-nilai cendekia tidak berhenti di pusat kota, tetapi hidup di lingkungan, kampung, dan komunitas.
Rapat Kerja Daerah yang digelar bukan sekadar menyusun program tahunan. Ia adalah ruang memilih orientasi. Dari diskusi yang berkembang, mengemuka satu benang merah: Desa Cendekia harus berbasis potensi tapak. Jika di Jawa Barat Desa Cendekia tumbuh dari agroforestry, jika di Kapuas Hulu ia berkembang dari penataan pertambangan rakyat, maka Singkawang menemukan jalannya melalui *wisata alam.*
Wisata alam di Singkawang bukan semata urusan ekonomi. Ia adalah perjumpaan antara alam, budaya, dan nilai. Di sanalah *IPTEK dan IMTAQ* bertemu. IPTEK hadir melalui perencanaan destinasi, pengelolaan lingkungan, penguatan UMKM, dan *ekonomi kreatif*. IMTAQ hadir melalui etika keramahan, kejujuran, kepedulian sosial, serta kesadaran bahwa alam adalah amanah, bukan komoditas semata.
Konsep Desa Cendekia berbasis wisata alam membuka peluang partisipasi luas. Masyarakat tidak lagi menjadi penonton, tetapi pelaku utama. Koperasi desa, pemandu wisata lokal, homestay, kuliner, hingga produk kreatif dapat tumbuh jika dikelola dengan ilmu dan kolaborasi. Di saat yang sama, praktik infaq, sedekah, dan wakaf produktif termasuk wakaf hijau menjadi instrumen sosial untuk mendukung pendidikan, kebersihan, dan konservasi, tanpa selalu bergantung pada anggaran publik.
Fondasi etika dari seluruh ikhtiar ini berpijak kuat pada pesan Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ
Latin: Wa lā tufsidu fil-arḍi ba‘da iṣlāḥihā wad‘ūhu khawfan wa ṭama‘ā, innā raḥmatallāhi qarībum minal-muḥsinīn.
Artinya: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya; berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.” *(QS. Al-A‘rāf: 56)*
Ayat ini menegaskan bahwa pembangunan sejati adalah ishlāḥ perbaikan yang menghadirkan manfaat, bukan kerusakan yang meninggalkan konflik. Dalam konteks Singkawang, ayat ini tidak hanya bermakna ekologis, tetapi juga sosial. Merusak alam berarti merusak ruang hidup; merusak harmoni berarti merusak masa depan bersama. Karena itu, wisata alam yang dikembangkan harus berwatak ramah lingkungan, adil secara sosial, dan beretika secara budaya.
Foto-foto pelantikan ORSAT memperlihatkan kesungguhan itu. Dari tapak kecamatan, ICMI hendak menata kerja yang nyata: mendengar masyarakat, mendampingi program, dan menjaga nilai. Kejayaan ICMI justru berpeluang tumbuh dari *langkah-langkah kecil* yang konsisten dan berintegritas.
Pelantikan ini bukan garis akhir, melainkan garis mula. Tantangan ke depan tentu tidak ringan. Akan ada keterbatasan, kritik, bahkan perbedaan pandangan. Namun di sanalah jati diri cendekia diuji: teguh pada ilmu, rendah hati pada rakyat, dan setia pada amanah.
Dari Singkawang, ICMI menyalakan api peradaban api yang tidak membakar, tetapi menerangi. Api yang menjaga toleransi, menuntun pembangunan, dan memastikan bahwa kemajuan tetap berjiwa.

