Bagi Kabar, Pontianak: Di bawah rindangnya hutan Bako, Sarawak, sebuah kolaborasi unik terjalin. Mahasiswa S2 Ilmu Kehutanan Universitas Tanjungpura (UNTAN) bersama rekan-rekan dari Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS) dan masyarakat lokal Bako bergandeng tangan dalam sebuah kegiatan yang sederhana namun penuh makna: Ecoprint Training from Natural Plants.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Kuliah Kerja Nyata (KKN) Global, yang menempatkan mahasiswa tidak hanya sebagai pembelajar di ruang kuliah, tetapi juga agen perubahan di lapangan. Melalui karya nyata ini, mahasiswa S2 Kehutanan UNTAN membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dapat berpadu dengan seni, tradisi, dan pemberdayaan masyarakat.
Ecoprint: Jejak Daun, Jejak Harapan
Ecoprint adalah teknik cetak alami menggunakan daun, bunga, dan bagian tanaman lain untuk menghasilkan motif pada kain, kertas, atau media lain. Tidak ada pewarna sintetis, tidak ada limbah beracun—hanya keindahan yang dipinjam dari alam.
Mengapa ecoprint penting?
1. Ramah lingkungan: Proses ini tidak mencemari air dan tanah, berbeda dengan pewarna kimia tekstil.
2. Pemberdayaan ekonomi: Produk ecoprint—mulai dari tote bag, syal, hingga busana—memiliki nilai tambah di pasar kreatif.
3. Identitas lokal: Motif daun mangrove, pakis, atau tumbuhan khas Borneo memberi kekhasan budaya yang bisa menjadi daya tarik wisata hijau.
Dengan mengajarkan teknik ini kepada masyarakat Bako, mahasiswa S2 Kehutanan UNTAN tidak hanya membawa pengetahuan, tetapi juga membangun jembatan menuju kemandirian ekonomi kreatif berbasis sumber daya lokal.
Suasana Belajar Bersama di Bako
Foto-foto kegiatan memperlihatkan suasana hangat dan egaliter. Ibu-ibu Bako, mahasiswa, dan dosen duduk melingkar di atas tikar, memukul daun di atas kain putih hingga motif hijau tercetak jelas.
Di ruang yang sama, generasi muda menata hasil kain bermotif menjadi busana sederhana: rok, selendang, hingga blus. Mereka berpose sambil tersenyum, menunjukkan bahwa karya mereka tidak kalah dengan produk butik kota.
Di halaman pusat edukasi Bako, kelompok besar memamerkan kain ecoprint hasil latihan. Motif berwarna coklat, merah, dan hijau menjadi bukti bahwa seni dan konservasi bisa berjalan beriringan. Inilah wajah pendidikan tinggi yang berpihak pada masyarakat: ilmu yang membumi.
Suara Mahasiswa, Suara Masyarakat
Salah satu mahasiswa S2 Ilmu Kehutanan UNTAN menuturkan pengalamannya:
“Kami belajar tidak hanya tentang teknik ecoprint, tetapi juga bagaimana masyarakat lokal mengajarkan kami nilai kesabaran dan kebersamaan. Ilmu kehutanan menjadi nyata ketika kami bisa duduk bersama ibu-ibu Bako, menempelkan daun, dan melihat senyum mereka saat motif pertama muncul di kain.
Sementara itu, seorang ibu peserta pelatihan menyampaikan dengan penuh semangat:
“Selama ini kami tahu daun hanya untuk masakan atau obat tradisional. Tidak pernah terpikir bisa jadi kain yang cantik. Dengan ecoprint, kami merasa punya sesuatu yang bisa dijual tanpa harus merusak hutan.”
Testimoni sederhana ini memperlihatkan bahwa ecoprint bukan hanya keterampilan teknis, melainkan jembatan yang mempertemukan ilmu kampus dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Mahasiswa S2 UNTAN: Agen Inovasi Hijau
Ada pesan kuat dari kegiatan ini: mahasiswa pascasarjana bukan sekadar peneliti, tetapi juga penggerak inovasi sosial. Mahasiswa S2 Ilmu Kehutanan UNTAN telah mengangkat dua isu sekaligus:
1. Konservasi alam melalui pengenalan pentingnya mangrove dan pemanfaatan lestari tumbuhan sekitar.
2. Kesejahteraan masyarakat melalui transfer keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi usaha kreatif.
Seorang dosen pendamping UNTAN memberi catatan reflektif:
“Inisiatif ini membuktikan bahwa pengelolaan sumber daya alam harus memadukan aspek ekologi, ekonomi, dan sosial budaya. Mahasiswa S2 kami berhasil menunjukkan bahwa konservasi bukan hanya menjaga pohon, tetapi juga memberi peluang hidup yang lebih baik bagi komunitas sekitar.”
Ekonomi Kreatif Hijau: Jalan Baru Pesisir
Bagi masyarakat pesisir Bako, ecoprint bukan sekadar hobi baru, melainkan potensi mata pencaharian. Produk hasil cetakan alami dapat dipasarkan sebagai souvenir eco-friendly, menambah pendapatan keluarga sekaligus mendukung pariwisata hijau.
Di tengah ancaman degradasi ekosistem mangrove dan tekanan pembangunan, kegiatan seperti ecoprint menjadi alternatif strategis. Ia mengajarkan bahwa konservasi tidak berarti membatasi, melainkan membuka peluang baru yang ramah lingkungan.
Kolaborasi Lintas Batas
Kegiatan ini juga menegaskan arti penting kerjasama lintas negara. UNIMAS dan UNTAN, dua universitas di Borneo, tidak hanya berbagi pengetahuan akademik tetapi juga berbagi kepedulian pada masyarakat lokal.
KKN Global ini menjadi bagian dari kerangka besar BoSAN (Borneo Satellite Network)—sebuah inisiatif yang menghubungkan riset, pendidikan, dan masyarakat dalam isu-isu konservasi dan perubahan iklim. Di sinilah mahasiswa S2 Kehutanan UNTAN menorehkan jejak: menghadirkan diplomasi hijau berbasis aksi nyata.
Jejak pada SDGs dan FOLU Net Sink
Kegiatan ecoprint mungkin terlihat sederhana. Namun jika dilihat dalam kerangka besar, ia berkontribusi pada Sustainable Development Goals (SDGs):
SDG 12: Responsible Consumption and Production → produksi ramah lingkungan.
SDG 8: Decent Work and Economic Growth → membuka peluang usaha baru.
SDG 13 & 15: Climate Action & Life on Land → mendukung konservasi dan adaptasi iklim.
Bagi Indonesia, kegiatan ini juga selaras dengan agenda FOLU Net Sink 2030, di mana ekosistem pesisir (blue carbon) menjadi bagian penting dalam pengendalian emisi.
Tantangan dan Harapan
Tentu saja, tantangan masih ada. Ecoprint perlu ditopang dengan akses pasar, pelatihan lanjutan, dan dukungan kebijakan agar benar-benar menjadi sumber ekonomi baru. Tetapi optimisme tetap besar.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa dengan modal kreativitas, masyarakat bisa memiliki alternatif pendapatan yang tidak merusak hutan. Dengan pendampingan akademisi, ecoprint bisa berkembang menjadi produk unggulan Borneo.
Dari Bako untuk Nusantara
Kegiatan KKN Global ini menyampaikan pesan penting: pendidikan tinggi harus hadir di tengah masyarakat, bukan hanya di ruang kuliah. Mahasiswa S2 Ilmu Kehutanan UNTAN memberi contoh nyata bagaimana ilmu bisa mengakar, menumbuhkan, dan memberdayakan.
Dari Bako, semangat ini bisa menyebar ke desa-desa pesisir lain di Kalimantan Barat dan Nusantara. Jika setiap kampus berani melangkah keluar, melibatkan masyarakat, dan mengembangkan inovasi hijau, maka konservasi bukan lagi wacana, melainkan gerakan nyata.
Penutup
Ecoprint dari daun-daun Bako bukan sekadar seni kain. Ia adalah simbol pertemuan antara ilmu, budaya, dan harapan. Mahasiswa S2 Kehutanan UNTAN bersama masyarakat Bako telah menorehkan jejak yang indah—jejak yang bukan hanya tercetak di kain, tetapi juga di hati, di alam, dan di masa depan.
Karena pada akhirnya, menjaga hutan bukan hanya soal menanam pohon, melainkan juga menanamkan nilai: bahwa alam adalah sumber kehidupan, inspirasi, dan kesejahteraan bersama.
Oleh: Prof. Gusti Hardiansyah
Guru Besar Manajemen Hutan & Perubahan Iklim, Universitas Tanjungpura; Ketua ICMI Orwil Kalbar

