Momen saat salah satu peserta khitanan massal dalam kegiatan bakti sosial terpadu Dies Natalis ke-67 Untan di Gedung Auditorium Untan, Sabtu (9/5/2026).

Bagi Kabar, Pontianak: Universitas Tanjungpura melalui Klinik Pratama Untan menggelar berbagai kegiatan pelayanan kesehatan gratis dalam rangka Dies Natalis ke-67 Untan di Gedung Auditorium Untan, Sabtu (9/5/2026).

 

Kegiatan bertajuk Optimalisasi Sinergi Kesehatan Kesejahteraan Masyarakat Berbasis Bakti Sosial Terpadu Tahun 2026 itu menghadirkan sejumlah layanan kesehatan bagi masyarakat, seperti khitanan massal, pemeriksaan kesehatan gratis, pemeriksaan kesehatan lansia, pemeriksaan antropometri anak panti, hingga donor darah.

 

Penanggung jawab kegiatan, dr. Eko Rustianto Suhardiman mengatakan program tersebut menjadi bentuk nyata pengabdian Untan kepada masyarakat melalui kolaborasi lintas sektor, khususnya bidang pendidikan dan kesehatan.

 

Menurutnya, kegiatan itu juga menjadi langkah awal memperkuat sinergi antara akademisi dan tenaga kesehatan agar dapat hadir langsung memberikan manfaat bagi masyarakat.

 

“Ini suatu program yang sangat baik karena mampu mengkolaborasikan berbagai sektor. Khususnya meningkatkan peran akademisi Universitas Tanjungpura untuk melakukan kerja nyata kepada masyarakat secara langsung,” ujarnya.

 

Ia menjelaskan, program pelayanan terpadu tersebut tidak hanya berfokus pada layanan kesehatan, tetapi juga mendukung program nasional melalui pemeriksaan antropometri untuk mendeteksi masalah gizi pada anak-anak.

 

“Kita menyiapkan big data dalam penyaringan masalah anak-anak yang mengalami gangguan gizi. Harapannya program yang terintegrasi ini bisa menjadi titik awal menyatukan dunia pendidikan dan kesehatan untuk masyarakat secara langsung,” tambahnya.

 

Lebih lanjut, dr. Eko mengungkapkan program pelayanan kesehatan terpadu itu nantinya akan dikembangkan ke wilayah Tohok yang saat ini berkembang sebagai kawasan pertambangan dan ketahanan pangan.

 

Untan, kata dia, memiliki lahan cukup luas di kawasan tersebut yang direncanakan untuk pengembangan sektor pertanian, termasuk penanaman padi dan tanaman pangan lainnya.

 

“Nantinya akademisi dan tenaga kesehatan akan turun langsung memberikan pelayanan kesehatan di sana. Kita juga ingin mengantisipasi dampak negatif dari pembukaan lahan tambang terhadap masyarakat,” jelasnya.

 

Ia menilai peningkatan aktivitas ekonomi akibat pertambangan perlu diimbangi dengan perhatian terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan sekitar.

 

Karena itu, pihaknya akan menghadirkan program kesehatan terintegrasi mulai dari pemeriksaan gizi buruk hingga pelayanan kesehatan untuk meminimalisir dampak negatif yang mungkin muncul akibat aktivitas tambang.

 

“Selama ini kesehatan, pendidikan, dan sektor lainnya berjalan sendiri-sendiri. Sekarang kita mencoba mengintegrasikan semuanya melalui peran universitas dan tenaga kesehatan agar masyarakat benar-benar merasakan manfaatnya secara langsung,” pungkasnya.(why)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *