Papan pengumuman bertuliskan "BBM Pertalite Habis" terlihat di SPBU Nusa Asia Wonodadi 64.783.27, Kabupaten Kubu Raya, saat stok Pertalite dilaporkan kosong dan memicu keluhan masyarakat.

Bagi Kabar, Kubu Raya: Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite di SPBU Nusa Asia Wonodadi dengan nomor registrasi 64.783.27, Kabupaten Kubu Raya, menuai perhatian serius. Kondisi ini diduga dipicu lonjakan permintaan masyarakat setelah adanya kenaikan harga BBM non-subsidi, terutama Pertamax.

Pantauan di lokasi pada Jumat (12/6/2026) menunjukkan area pengisian Pertalite tampak lengang. Tidak terlihat antrean kendaraan seperti biasanya. Sebaliknya, sebuah papan pengumuman bertuliskan “BBM Pertalite Habis” terpasang di area SPBU.

Sejumlah pengendara roda dua maupun roda empat terpaksa membatalkan pengisian bahan bakar setelah mendapat informasi bahwa stok Pertalite telah kosong. Kondisi tersebut menimbulkan kekecewaan di kalangan masyarakat yang mengandalkan BBM bersubsidi untuk aktivitas sehari-hari.

Diduga, kekosongan stok terjadi akibat meningkatnya peralihan konsumen dari BBM non-subsidi ke Pertalite menyusul penyesuaian harga yang diberlakukan. Akibatnya, kuota harian yang diterima SPBU habis lebih cepat dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Selain tingginya permintaan, pihak SPBU juga disebut mengalami kesulitan memperoleh tambahan kuota pasokan dari Pertamina sehingga stok tidak dapat segera dipenuhi.

Menanggapi persoalan tersebut, Bupati Kubu Raya, Sujiwo, menyatakan bahwa pemerintah daerah memahami keresahan masyarakat. Namun, sebagai bagian dari sistem pemerintahan nasional, daerah harus mengikuti kebijakan yang telah ditetapkan pemerintah pusat.

“Pertama, saya ingin menyampaikan bahwasanya konsep berbangsa dan bernegara kita adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ketika ada keputusan dari pemerintah pusat, sepahit apa pun, saya selaku kepala daerah harus menerimanya,” ujar Sujiwo kepada awak media.

Ia mengakui kenaikan harga BBM non-subsidi memberikan beban tambahan bagi masyarakat dan berdampak pada meningkatnya ketergantungan terhadap Pertalite.

“Terus Pertalite, ya, ini yang jadi persoalan karena langka. Sehingga pada akhirnya orang mau tidak mau, khususnya kelas menengah, belinya Pertamax,” katanya.

Sujiwo memastikan Pemerintah Kabupaten Kubu Raya akan terus berupaya mencari solusi atas persoalan tersebut. Ia juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik menghadapi situasi yang terjadi.

“Mudah-mudahan dampak ini bisa kami antisipasi dan badai yang sedang kita hadapi segera berlalu. Harapan saya masyarakat tetap tenang dan semangat, serta segala sesuatu yang perlu dikomunikasikan lebih baik disampaikan kepada pemerintah,” tuturnya.

Menurut Sujiwo, peran Pertamina sangat penting dalam menjamin ketersediaan BBM bersubsidi di lapangan. Karena itu, ia meminta perusahaan pelat merah tersebut meningkatkan pengawasan dan memastikan distribusi berjalan optimal.

“Memang yang paling utama adalah Pertamina, bagaimana kelangkaan Pertalite atau bahan bakar lainnya tidak terjadi,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya pengawasan distribusi hingga penindakan terhadap berbagai potensi penyimpangan yang dapat mengganggu pasokan BBM kepada masyarakat.

Menutup pernyataannya, Sujiwo mendesak Pertamina untuk memastikan stok Pertalite tetap tersedia bagi masyarakat yang memilih BBM bersubsidi sebagai alternatif di tengah kenaikan harga BBM non-subsidi.

“Ketika masyarakat ingin mengambil opsi menghindari kenaikan harga Pertamax dengan memilih Pertalite, maka Pertalitenya harus tersedia dan siap,” pungkasnya. (Why)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *