Habib Muhammad saat diwawancarai di kediamannya, Jalan Tanjung Raya 1, Pontianak, Rabu malam (22/10/2025). Ia mengajak umat menjaga persatuan dan tidak mudah terprovokasi.

Bagi Kabar, Pontianak: Habib Muhammad Al- Qadri Pimpinan Pondok Pesantren Nursunnah Madusari Kubu Raya, mengajak umat Islam serta seluruh masyarakat Kalimantan Barat untuk tidak mudah terpancing oleh isu-isu provokatif yang dapat memecah belah kerukunan antar umat. Hal ini disampaikan dalam kajian rutin yang digelar di kediamannya di Jalan Tanjung Raya 1, Kota Pontianak, Rabu malam (22/10/2025).

Usai kajian, Habib Muhammad menanggapi polemik yang sempat mencuat antara salah satu pondok pesantren dengan stasiun televisi nasional. Ia meminta masyarakat agar menyikapi perbedaan dengan kepala dingin dan berpikir positif.

“Kita harus waspada terhadap oknum-oknum provokator yang ingin merusak persatuan. Jangan sampai kita terpecah karena hal yang tidak dipahami secara utuh,” ujar Habib Muhammad.

Ia menegaskan bahwa penghormatan santri terhadap guru di pondok pesantren merupakan bagian dari tradisi luhur yang telah berlangsung sejak masa para ulama salaf. Kebiasaan ini, kata Habib Muhammad, bukan bentuk berlebihan apalagi perbudakan, melainkan wujud cinta dan penghormatan seorang murid kepada gurunya.

“Kalau kita melihat para ulama terdahulu seperti Imam Syafi’i dan Imam Malik, mereka menunjukkan adab dan takzim yang luar biasa terhadap guru. Itu bukan hal yang berlebihan, tapi bagian dari ajaran Islam,” jelasnya.

Habib Muhammad juga mengingatkan agar masyarakat tidak sembarangan membagikan atau mengomentari informasi di media sosial, terutama jika belum memahami duduk persoalannya secara menyeluruh.

“Sering kali komentar di media sosial justru menambah masalah baru. Karena itu, kalau tidak tahu persoalan, sebaiknya serahkan kepada ahlinya. Allah sudah berpesan, fas’alu ahla zikri in kuntum la ta’lamun tanyakan kepada orang yang paham jika kamu tidak tahu,” pesannya.

Ia berharap masyarakat bisa mengambil hikmah dari setiap peristiwa dan menjadikan perbedaan pandangan sebagai sarana memperkuat ukhuwah, bukan memperlemah persaudaraan.

“Mari kita jaga kedamaian, perkuat silaturahmi, dan hindari ujaran yang bisa menimbulkan perpecahan. Karena Islam itu rahmatan lil ‘alamin,” tutup Habib Muhammad. (WHY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *