Bagi Kabar, Ketapang: Dosen Hukum Fakultas Hukum, Hazilina, dipercaya menjadi Pelatih Utama Daerah dalam kegiatan Peningkatan Kapasitas Fasilitator Daerah Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) yang digelar di Favehotel Ketapang pada 8–12 Juni 2026.
Pelatihan ini diikuti fasilitator daerah serta berbagai pemangku kepentingan yang memiliki peran strategis dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, dan ramah anak. Kegiatan tersebut bertujuan memperkuat kapasitas peserta dalam mengimplementasikan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) di satuan pendidikan masing-masing.
Dalam pemaparannya, Hazilina menjelaskan bahwa pelatihan ini menjadi langkah penting untuk meningkatkan kompetensi fasilitator daerah dalam mendukung perlindungan anak di lingkungan sekolah. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga menjadi ruang berbagi pengalaman dan praktik baik dari berbagai daerah.
“Seluruh peserta memiliki pengalaman berharga yang dapat menjadi sumber pembelajaran bersama. Karena itu, pelatihan ini dirancang sebagai ruang kolaboratif untuk saling berbagi, berdiskusi, dan memperkuat pemahaman tentang perlindungan anak di lingkungan sekolah,” ujar Hazilina.
Ia menegaskan bahwa setiap peserta membawa pengalaman dan perspektif yang berbeda sehingga tidak ada pihak yang paling benar dalam proses pembelajaran. Keragaman pengalaman tersebut justru menjadi kekuatan untuk memperkaya diskusi dan memperkuat kapasitas bersama.
“Semua peserta hadir untuk saling belajar, bertukar pengalaman, dan memperkuat kapasitas dalam upaya perlindungan anak. Semangat kolaborasi dan keterbukaan menjadi kunci dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi seluruh peserta didik,” katanya.
Sebagai bentuk komitmen bersama selama pelatihan, peserta menyusun kesepakatan kelas yang menjadi pedoman dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Kesepakatan tersebut mencakup nilai saling menghormati, partisipasi aktif, menjaga kerahasiaan informasi sensitif, serta menciptakan suasana belajar yang kondusif dan inklusif.
Melalui pelatihan ini, para fasilitator daerah diharapkan mampu menjadi agen perubahan dalam mendorong implementasi Budaya Sekolah Aman dan Nyaman secara berkelanjutan di berbagai satuan pendidikan. Upaya tersebut dinilai penting untuk memperkuat perlindungan anak sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang mendukung tumbuh kembang peserta didik secara optimal.
Dengan meningkatnya kapasitas fasilitator daerah, implementasi BSAN diharapkan semakin luas dan efektif sehingga sekolah dapat menjadi ruang yang aman, nyaman, serta bebas dari berbagai bentuk kekerasan dan diskriminasi. (Ewok)

