Direktur RS Untan Pontianak, dr. Mira Delima Asikin, memberikan keterangan dalam kegiatan bakti sosial di Kecamatan Toho, Kabupaten Mempawah. Kegiatan ini menemukan banyak kasus hipertensi, termasuk hipertensi grade 2 yang memerlukan penanganan lanjutan.

Bagi Kabar, ‎Mempawah: Rumah Sakit Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PDPI) Cabang Kalimantan Barat menemukan banyak warga di Kecamatan Toho, Kabupaten Mempawah, menderita hipertensi saat kegiatan bakti sosial kesehatan dalam rangka Dies Natalis Universitas Tanjungpura Pontianak.

‎Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena sejumlah warga yang diperiksa mengalami hipertensi grade 2 yang membutuhkan penanganan dan pengawasan kesehatan secara berkelanjutan.

‎Direktur Rumah Sakit Universitas Tanjungpura Pontianak, dr. Mira Delima Asikin, mengatakan RS Untan hadir untuk memfasilitasi masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan tingkat sekunder, terutama bagi pasien yang tidak dapat ditangani di puskesmas maupun klinik.

‎”Jika puskesmas atau klinik tidak mampu menangani dan membutuhkan layanan spesialistik, maka akan dirujuk ke Rumah Sakit Untan,” ujar Mira saat kegiatan bakti sosial di Kecamatan Toho, Sabtu (13/06/2026).

‎Menurutnya, penyakit yang paling banyak ditemui di masyarakat adalah penyakit tidak menular, terutama diabetes melitus dan hipertensi. Karena itu, selain sebagai Direktur RS Untan, dirinya bersama PDPI Cabang Kalimantan Barat turut turun langsung untuk melihat kondisi kesehatan masyarakat di wilayah tersebut.

‎”Kami ingin mengetahui bagaimana insiden hipertensi dan diabetes melitus di sini, serta bagaimana penanganan yang tepat agar masyarakat mendapatkan pengobatan yang holistik. Jika membutuhkan fasilitas kesehatan yang lebih lanjut, tentu akan kami sarankan untuk dirujuk ke rumah sakit,” katanya.

‎Dari hasil pemeriksaan sementara, Mira mengungkapkan bahwa mayoritas warga yang diperiksa mengalami hipertensi dengan berbagai tingkatan.

‎”Memang rata-rata masyarakat yang kami periksa menderita hipertensi. Ada yang grade 1 dan ada juga yang grade 2. Beberapa yang kami periksa bahkan sudah masuk hipertensi grade 2,” ungkapnya.

‎Ia menilai kondisi tersebut memerlukan perhatian bersama, terutama dari tenaga kesehatan dan masyarakat, agar penanganan hipertensi dapat dilakukan secara optimal dan berkelanjutan.

‎Mira menegaskan, langkah utama dalam mencegah hipertensi adalah edukasi sejak dini. Masyarakat perlu memahami pola hidup sehat, terutama mengurangi konsumsi garam yang berlebihan.

‎”Pencegahannya sederhana, salah satunya tidak mengonsumsi makanan yang terlalu asin. Bahkan pencegahan hipertensi harus dimulai sejak dini, sejak balita. Bayi di bawah satu tahun diusahakan tidak mengonsumsi garam dan gula berlebihan agar ketika dewasa tidak terbiasa dengan pola makan yang meningkatkan risiko hipertensi,” jelasnya.

‎Selain pola makan, faktor keturunan juga menjadi salah satu penyebab hipertensi. Oleh sebab itu, masyarakat yang memiliki riwayat keluarga dengan hipertensi diimbau untuk rutin memeriksakan kesehatannya.

‎”Bagi yang memiliki faktor genetik atau keturunan hipertensi, diharapkan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, terutama memeriksa tekanan darah,” ujarnya.

‎Ia berharap kegiatan bakti sosial seperti ini dapat terus dilaksanakan, tidak hanya di Kecamatan Toho tetapi juga di wilayah lain di Kalimantan Barat.

‎”Kegiatan bakti sosial ini sangat baik. Harapan kami ke depan dapat terus dilakukan di Kecamatan Toho maupun kecamatan lainnya demi meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Kalimantan Barat,” pungkasnya. (Why)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *